Ini adalah cerita dari desa saya tercinta. Namun bisa jadi cerita ini representasi Bali. Apa yang mungkin bs kita perbuat?
Saya dan beberapa kawan di kampung dalam beberapa kesempatan diskusi tentang apa yang bisa kita lakukan demi kampung kita tercinta. Ide awalnya sederhana saja. Dengan berbagai kondisi kita masing-masing, disadari atau tidak, kita adalah orang2 yang relative beruntung daripada beberapa kawan dan handai tolan kita yang tinggal di kampung. Tentu ukurannya bukanlah materi, melainkan lebih pada kesempatan dan keleluasaan lebih yang kita miliki. Untuk kita yang sudah berkeluarga, ada tanggungjawab yang melekat yang wajib kita panggung – petedunan dan ayah-ayah di adat. Dengan permakluman adat (nekel), kita tidak diwajibkan untuk tedun sebagaimana baleangkep dan pengayah lain di kampung. Memang ada kewajiban ‘penekel’yang jumlahnya Rp 20rb/6bulan. Tentu jumlah ini tidaklah sebanding dengan kewajiban yang dijalankan oleh kawan2 kita terlebih jika diambil dengan tolok ukur upah tukang saat ini.
Dalam banyak kasus, banyak warga hanya mendedikasikan seluruh hidupnya utk kewajiban di adat. Sekilas terdengar hiperbolis, namun begitulah kenyataannya. Sebut saja Nang Tolih (65). Lajang lapuk ini hidup dengan kakaknya Dadong Renyin (75) yang juga seorang lajang. Nang Tolih bekerja sebagai petani dengan garapan lahan basah sekitar 15 are dan mempunyai ternak 1 ekor sapi. Dadong Renyin memelihara 1 ekor babi. Nang Tolih mempunyai kewajiban di banjar, desa gede, desa gunung sari, dadya Manikan dan di pekaseh. Dengan segala kewajiban dan tanggungjawabnya, penghasilannya sebagai petani dan beternak sapi rasanya sulit untuk memneuhi semua peturunan yang timbul. Kenyataannya Nang Tolih tidak pernah nunggak iuran dan peturunan dan selalu membayar lebih awal daripada kebanyakan warga. Bagaimana cara mereka hidup? Ternyata mereka mengedepankan tangggung jawab diadat daripada kebutuhan pokok hidup mereka. Hidup bersahaja, dengan rumah citak (bata mentah) yang tidak diplester dan tidak terkena imbas kemajuan jaman; no tv, no HP, no sepeda motor, no cicilan n nongos jumah. Begitulah! Dalam keriuhan kehidupan saat ini, pola hidup Nang Tolih terasa aneh. Namun banyak lagi Nang Tolih2 yang lain yang ada di sekitar kita; Nang Rodi, Dadong Liyer, Nang Nandir dsb. Saya yakin bahwa setiap insan dikaruniai dengan rasa iba dan peduli dengan yang lain. Hanya kadang kita tidak banyak waktu atau cukup informasi untuk mengetahui semua hal yang terjadi disetikar kita. Karenanya, saya menghadirkan cerita ini kehadapan rekan2 semua.
Jika kita mau meretas kesujatian dalam kampung kita, banyak hal yang sesungguhnya memerlukan perhatian kita bersama, selain masalah ketimpangan kewajiban dan kesempatan tadi. Sebut saja para jompo yang tidak punya kepurusan (red-keturunan laki2), anak-anak berprestasi namun tidak bisa meneruskan sekolah karena tidak punya cukup biaya, remaja dengan pengaruh alcohol. Yang terakhir ini menjadi kekhawatiran saya dan memerlukan perhatian istimewa. Ditengah terkikisnya kepedulian kepada yang lain, masyarakat semakin terbiasa dan lebih asseptif kepada hal yang sesungguhnya kurang terpuji; mencari teman utk minum arak jauh lebih gampang daripada untuk pergi sembahyang misalnya. Mirisnya lagi, banyak kejadian seperti ini dimotori oleh mereka yang mempunyai ‘kedudukan’ di masyarakat. Kita tidak bermaksud untuk menjadi pahlawan kesiangan dengan menawarkan konsep yang agamis ditengah pola yang diamini oleh masyarakat kebanyakan, meskipun secara ukuran moralitas bukanlah hal yang patut ditiru. Kesadaran bahwa ada realitas yang menyimpang dan berkembang diantara kita pun merupakan sebuah titik awal dari pembenahan itu. Maka, seharusnyalah kita berbuat sesuatu. Mari galang lentera itu. Ayo kita mulai!. Karena kalau bukan kita, siapa lagi?
