Kampus Besar Kerohanian Bali Kuno Catatan Menjelang 800 Tahun Bangli Jantung Bali (1) SABTU Umanis wuku Tolu, 10 Mei mendatang, Kota Bangli memasuki usia 799 tahun. Itu berarti setahun lagi Bangli genap berusia 800 tahun atau delapan abad. Betapa tua, sesungguhnya.
Mungkin malah kota tertua di Bali, karena kisah itu bermula sejak tahun 1126 Saka atau 1204 Masehi. Itu berarti Bangli telah ada hampir seabad sebelum gerakan kebudayaan Rennaisance dimulai di Italia (1300 Masehi). Ketika itu tercatat lewat prasasti 705 Bangli, Pura Kehen C, Raja Bhatara Guru Sri Adikuntiketana, tepatnya pada wuku Krulut, Purnama Kadasa, menitahkan kepada Sri Dhanadhirajalancana dengan permaisurinya. Paduka Bhatari Sri Dhanadewiketu, agar memanggil-memulangkan kembali tanayam thani karaman i Bangli (warga masyarakat Bangli). Tiada jelas kenapa warga Bangli meninggalkan desa mereka sehingga Bangli menjadi kosong, sunyi, tiada anak negeri menggelar yajnya. Padahal, yajnya itu mesti diselenggarakan saban bulan Kasa (kehadapan Hyang Hatu dan Hyang Pasek), Karo (Hyang Paha Bangli), Katiga (Hyang Tegal), Kapat (Hyang Peken Lor), Kalima (Hyang Kehen), Kaenem (Hyang Waringin), Kapitu (Hyang Peken Kidul), Kawolu (Hyang Wukir), Kasanga (Hyang Kadaton), dan Kadasa (Hyang Pahumbukan), Jyestha (Hyang Buhitan), dan Asadha (Hyang Pande). Pemujaan itu digelar saat Purnama, kecuali bagi Hyang Kadaton saat Tilem. Pemujaan dititahkan agar dilakukan bersama-sama dengan segenap karaman i Bangli. Agar Bangli tidak kosong dan yajnya digelar kembali maka Raja Bali ke-18 dalam masa sejarah Bali Kuno itu menitahkan karaman i Bangli pulang kembali. Sebagai konvensasi, bonus: Raja membebaskan segala bentuk pungutan pajak. Segala bentuk pungutan besar maupun kecl ditiadakan, karena warga Bangli dijadikan jataka (pakandel, penopang utama) di Lokasarana itu. Tercatat pula sejak itu pajak terhadap kesenian, termasuk salunding (selonding) dan calung, dihapuskan. Nama Bangli sebagai karaman (desa), dan nama Pura Kehen, diketahui memang tersurat otentik dalam Prasasti Pura Kehen C itu. Berarti, Bangli sebagai karaman memang terbilang otentik ada sejak zaman Bali Kuno. Tentu saja logikanya, Bangli telah ada sebelum Prasasti Kehen C itu dikeluarkan Raja Adikuntiketana tertanggal 10 Mei 1204, sebagaimana diterka oleh arkeolog Louis Charles Damais maupun Dr. V.P. van Stein Callenfels. Bila Bangli sebagai karaman baru ada sejak prasasti itu diterbitkan, tentu saja tidak akan disuratkan di sana kosong, sehingga sang Raja menitahkan karaman i Bangli kembali. Namun amat terang bahwa nama Bangli sejauh ini diketahui pertama kali tersurat dalam prasasti itu. Berdasarkan suratan prasasti Pura Kehen C itulah ditetapkan hari jadi Kota Bangli, 10 Mei 1204, dan baru diperingati sejak 1991. Satu hal menjadi lebih terang lagi mengenai Bangli dalam prasasti Pura Kehen C itu adalah disuratkan jelas batas-batas desa di empat penjuru angin. Di sisi utara adalah Tegal Sana dan Gelinggang, di sebelah timur Tukad Melangit, sebelah selatan Tegalalang, Tegal, dan Bebalang, sedangkan sisi barat Tukad Sangsang. Dengan begitu Bangli sebagai wilayah utuh karaman memang terbilang tua, desa kuno. Kekunaan itulah yang diwarisi Bangli sebagai wilayah kabupaten hingga kini. Bangli bahkan kiranya bisa dikatakan sebagai lumbung kekunaan Bali yang di masa silam justru menjadi pusat peradaban spiritual, peradaban rohani Bali. Di atas tanah yang kini menjadi wilayah Kabupaten Bangli itulah tercatat otentik dalam prasasti 001 Sukawana A-I pernah berdiri ”kampus besar perguruan tinggi kerohanian” model Bali Kuno berupa pertapaan dan pasraman. Secara otentik prasasti Sukawana A-I yang dikeluarkan di Singamandawa (tanpa menyebut nama raja) dengan angka tahun 804 Saka (tepatnya 19 Januari 882 M, jadi 1121 tahun lampau!) menyuratkan titah sang raja yang memberikan izin kepada para bikhu mendirikan pertapaan dan pasraman di daerah perburuan di Bukit Cintamani Mmal. Nama itulah yang kini dikenal sebagai Kintamani, dengan daya pesona unggul unik-otentik danau-gunung bergamit menyatu berpasangan satu-satunya di Bali. Kekayaan Bangli sesejati-sejatinya sepanjang hayat perjalanan sejarah Bali masa silam memang lumbung kekunaan dan kampus besar spiritualistas itu. Selain Buleleng dan kawasan Gianyar utara, dan Karangsem yang masing-masing berbatasan dengan wilayah Bangli, maka Kabupaten Bangli boleh jadi merupakan pewaris kekunaan Bali terbesar. Lewat prasasti 001 Sukawana A-I itu saja sesungguhnya Bangli telah memberi sumbangan terbesar, baru, dan monumental bagi peradaban Bali berupa ”revolusi aksara” bahwa itulah, sementara ini, disepakati sebagai prasasti tertua yang ditemukan di Bali. Itu berarti pula bahwa sejak itulah peradaban aksara sebagai pembuka bagi babakan zaman sejarah (dalam arti sempit sebagai zaman aksara) Bali dimulai. Kalangan akademis seperti bersepakat, sejak itulah babakan sejarah Bali Kuno dimulai, sedangkan babakan sebelum ditemukan aksara lewat prasasti Sukawana A-I itu dikategorikan ke dalam babakan prasejarah, pra-aksara. Bangli di posisi Bali Tengah-hulu, karena itu, menghamparkan lumbung data dan mata air masa silam peradaban Bali hingga ke hilir zaman masa kini dan masa depan. Keajegan aliran itu tiada ubahnya sumber mata air Danau Batur yang terus mengalirkan air kehidupan bagi seantero gumi Bali seisinya. Hingga kini Bangli mewarisi desa-desa kuno yang bahkan namanya pun masih jelas dan ajeg otentik, seperti Kintamani, Trunyan, Sidem Bunut, Srokadan, Pengotan, Serai, Manikaliyu, Kedisan, Buahan, Abang, Sukawana, bahkan Bangli sendiri. Tiada mengherankan bila di seantero Bangli lantas ditemukan selain banyak prasasti beraksara juga tinggalan-tinggalan artefak otentik, tak terkecuali alat gamelan salunding (selonding) yang tercatat sebagai musik utama masa Bali Kuno, selain instrumentalia galunggang ptung (gambang) dan calung, yang semasa kolonial Majapahit di Bali cenderung justru kian diabaikan. Naluri alamiah manusiawi memang cenderung untuk merespons alam dalam masa awal dengan mendiami kawasan atas, kawasan pegunungan, yang berdekatan dengan sumber-sumber air. Pegunungan penting bagi orientasi pusat puncak tuju dan secara praksis sebagai mekanisme pertahanan diri dari ancaman musuh, selain kental dengan visi kosmis-mistis-spiritual, sedangkan sumber air jelas amat utama bagi kelangsungan hidup. Dan, Bangli dengan kawasan Batur-Cintamani-nya memang memberikan pilihan ideal komplit itu, ketinggian kawasan pegunungan sekaligus sumber mata air berkecukupan. Tidak mengherankan bila kawasan ini menjadi kawasan penting bahkan utama, dalam masa Bali kuno. Belajar dari kearifan kekayaan masa silam demikian sepatutnya Bupati Bangli I Nengah Arnawa tidak usah berat-berat berpikir hendak membangun pura jauh-jauh di India sana. Bangun saja pasraman sekolah perguruan bagus dan berkeunggulan di gumi Bangli sehingga orang-orang dari kawasan sedunia yang makmur ragawi oleh revolusi industri datang mencari aliran bening getaran spiritual ”berevolusi aksara” di sana. Kalaupun hendak ikut riuh cari-cari duman — bagian dalam pariwisata, ya bikinlah wisata spiritual berkesadaran ”revolusi aksara,” bukan cuma menyabot turis untuk melongok-longok dan makan di Kintamani, tapi ajak agar mereka tersentuh luluh oleh getaran pasraman perguruan spiritual itu. Bangli memang perlu bersiasat menghadapi masa depan, jangan cuma terbenam pada daya pukau masa silam (apalagi Bangli abad ke-18 hingga 19 penuh intrik, trik, dan konflik dengan raja-raja tetangga). Apalagi hendak melapuk-lapukkan menyeragamkan diri semu, seperti Panglipuran, atau jor-joran menyatakan diri pertama bebas Pra-KS di era Orba. Tapi, juga tak tepat bila berkenes-kenes latah menjadi kawasan industri sebagaimana Denpasar dan Badung. Cukup mantapkan pilihan sebagai kota pendidikan. Sudah tepat dengan langkah awal berjuang memindahkan STAHN ke Bangli, tapi itu segera mesti dilanjutkan dengan universitas, berpikir strategis dengan membangun pasraman perguruan di wilayah Bangli, mulai dari setingkat TK, SD, hingga kampus perguruan tinggi. Di sinilah penggodokan SDM baru Bali — Hindu ditempa hingga menjadi generasi tangguh berwatak sekaligus berkecerdasan unggul. Dengan menjadi kota pendidikan, ekonomi kerakyatan juga akan berkembang: toko buku, rumah-rumah pemondokan, warung-warung dan tempat makan, pasti bermunculan menopang jagat pendidikan. Rasanya keliru bila Bangli justru ikut latah-latahan mengembangkan diri jadi kota industri yang melantakkan lingkungan tenang nyaman berkesejukan hawa pegunungan Bali Tengah-hulu yang juga menjadi kawasan resapan air dan pemasok air utama bagi Bali itu. Cuma, ini bukan hanyan menjadi urusan Bangli yang ber-ultah tepat dalam momentum Hari Pendidikan Nasional, melainkan tugas Bali bersatu menyeluruh bersama-sama. Betapa mustahil Bali mekar minus Bangli, sama saja dengan manusia mustahil hidup tanpa jantung.
I Made Prabaswara
(Source: BP)
